Chat kami sekarang

Pembangunan Kolam dan Gasebo Molinow Disorot Warga

Foto: Pembangunan Kolam dan Gasebo Molinow yang disorot warga setempat.


SulutPos.com, Amurang – Proyek pembangunan Kolam Renang dan Gasebo yang teralokasi dari Dana Desa (DD), Desa Molinow, Kecamatan Tenga, Kabupaten Minahasa Selatan, disorot warga.

Selain tidak terpampang papan proyek di lokasi pembangunan, kejanggalan lain turut mewarnai proses pengerjaan proyek dimaksud.

Informasi warga setempat, yang namanya enggan dipublish, menyoroti pembangunan kolam renang (sementara berlanjut) maupun gasebo, hingga selesai tidak pernah terpampang papan anggaran.

“Bagaimana dapat diketahui luas kolam, serta besaran anggaran,” sebut sumber, menyoroti pembangunan proyek yang sementara berlangsung.

Parahnya lagi, proses pengerjaan, yang dilakukan sebagian pengerjaanya, menggunakan alat berat (exavator). sehingga penerapan sistem Padat Karya Tunai (PKT) seperti yang diamanatkan dalam regulasi, nyaris terabaikan, sebut sumber lain, senada ikut menyoroti proses pengerjaan proyek dimaksud.

Mirisnya, lokasi pembangunan kolam, diduga pula, terindikasi melanggar aturan, sebab lokasinya sangat dekat dengan bibir pantai, tambah sumber tersebut.

Pembangunan Kolam dan Gasebo Molinow yang disorot warga setempat
Pembangunan Kolam dan Gasebo Molinow yang disorot warga setempat.

“Minimnya keterlibatan warga, dalam pekerjaan, (PKT) mereka merasa dirugikan. Terlebih lagi, saat ini warga sementara menghadapi dampak dari, Covid 19. Di mana harusnya sesuai aturan, proses pengelolaan dana desa, item lain mengisyaratkan agar realisasinya dapat membantu perekonomian warga,” tambah narasumber.

Lanjut sumber, sesuai regulasi yang berlaku, diduga proses pengelolaan dana desa, Desa Molinow, menyalahi aturan Undang- undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP).

Sumber menjelaskan, berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 (Permen PU 29/2006), tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung, serta Permen PU 12/2014 atau Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/20014 disebutkan, persyaratan penampilan bangunan gedung, harus memperhatikan aspek tapak bangunan, termasuk pemasangan papan nama proyek untuk memperhatikan keamanan, keselamatan keindahan dan keserasian lingkungan.

“Selain itu, agar masyarakat mengetahui sumber, besaran anggaran maupun volume. Sedangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 54 tahun 2010 dan Perpres No 70 tahun 2012, tertuang terkait kewajiban memasang papan nama proyek,” ungkap mereka.

Sedangkan terkait lokasi pembangunan kolam renang, yang berada di bibir pantai diduga, bertentangan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai. Dalam Perpres ini Pasal 1 Ayat 2, dijelaskan bahwa Sempadan Pantai adalah daratan sepanjang tepian pantai. Lebarnya pun proporsional sesuai bentuk dan kondisi fisik pantai, minimal 100 (seratus) meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Pnj. Kumtua (Hukum Tua) Desa Molinow, Christien Ilat, saat dikonfirmasi pada Senin, 07 September 2020 mengungkapkan, pekerjaan pembuatan kolam renang belum selesai, masih dalam pengerjaan. Sementara, gasebo sudah tuntas, dan telah diperiksa oleh Inspektorat Minahasa Selatan.

Ilat pun berdalih, kalau proses pekerjaan penggalian kolam renang, mengapa digunakan alat berat, (exavator) dikarenakan, itu sudah disetujui bersama dalam rapat antara pemerintah desa Molinow, BPD dan perangkat desa.

“Keputusan menggunakan alat exavator atas persetujuan bersama, akasannya, terlalu besar anggaran yang akan dikeluarkan kalau memakai PKT. Begitu pula sebaliknya minimnya serapan tenaga masyarakat karena banyak yang kerja di luar kampung,” tuntas Ilat. (Christian Ngau))

(Visited 189 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *