Chat kami sekarang

Terorisme Kanan Meningkat, Terorisme Islam Menurun

Foto: Penembakan massal di Walmart, di El Paso, di Texas, Agustus 2019. AFP


SulutPos.com, Washington – Setelah seorang pria kulit putih berusia 21 tahun dengan senapan semi-otomatis memasuki toko Walmart di El Paso, Texas dan menembaki hampir dua lusin orang — kebanyakan warga Latin tahun lalu — pihak berwenang AS menganggap serangan itu sebagai tindakan terorisme domestik sayap kanan.

Menurut sebuah laporan baru Indeks Terorisme Global (GTI) tahunan yang diterbitkan pada Rabu (25/11), serangan Agustus 2019 itu bukanlah insiden yang terpisah, tetapi salah satu dari serangan yang semakin meningkat oleh ekstremis sayap kanan anti-imigran, dari Eropa ke Selandia Baru hingga Amerika Utara. Indeks Terorisme Global diterbitkan oleh Institut Ekonomi dan Perdamaian (IEP) yang berpusat di Australia.

GTI mencatat peningkatan 709 persen dalam kematian akibat “terorisme sayap kanan” dalam lima tahun terakhir, sementara terjadi penurunan kematian sebesar 15 persen akibat terorisme lain, termasuk oleh kelompok Islam radikal, pada 2019 dibandingkan tahun sebelumnya.

“Terorisme sayap kanan cenderung lebih mematikan daripada terorisme sayap kiri, tetapi tidak mematikan seperti terorisme Islam di Barat,” kata laporan GTI. Laporan itu juga mencatat, ekstremis sayap kanan bertanggung jawab atas 89 kematian pada 2019, dengan 51 di antaranya terjadi dalam serangan masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru.

Hampir 50 persen dari 332 serangan sayap kanan sejak 2002 terjadi di AS, diikuti Jerman dengan 48 insiden dan Inggris 35 insiden.

“Biasanya terorisme sayap kanan dilakukan oleh individu,” kata Carolyn Gallaher, pakar ekstremisme sayap kanan dan kekerasan terorganisasi dari American University di Washington DC. [ps/pp]

VOA News

(Visited 209 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *