Australia Peringatkan Dampak Kelambanan Tindakan Terkait Perubahan Iklim

Foto: Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan kebakaran hutan di Wooroloo, dekat Perth, Australia, 1 Februari 2021. AP

Australia gagal bertindak cepat untuk mengatasi ancaman cuaca ekstrem yang meningkat, sementara pemanasan global meningkatkan risiko di daerah-daerah yang dulunya diduga aman, sebut sebuah laporan baru-baru ini. 


SulutPos.com, Sydney – Australia sudah terbiasa menghadapi kondisi alam yang ekstrem. Negara ini merupakan benua berpenghuni terkering di dunia, di mana musim kemarau dapat berlangsung bertahun-tahun. Kebakaran hutan hebat yang dijuluki Black Summer atau Musim Panas Hitam pada tahun 2019/2020 adalah kebakaran yang tercatat paling intens di negara itu. Gelombang panas sejauh ini merupakan bahaya alam yang paling mematikan.

Laporan baru yang dikeluarkan Dewan Iklim, sebuah organisasi nirlaba independen, menyatakan kerugian akibat cuaca ekstrem di Australia telah meningkat hampir dua kali lipat sejak tahun 1970-an.

Laporan ini memperingatkan bahwa dampak finansial kebakaran, banjir, kemarau, badai dan naiknya ketinggian permukaan air laut yang terkait dengan perubahan iklim dapat melambung tinggi, berpotensi merugikan ekonomi negara hingga 76 miliar dolar setiap tahun pada tahun 2038.

Robert Glasser adalah mantan Perwakilan Khusus Sekjen PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana.

Ia mengatakan Australia harus melakukan perubahan-perubahan fundamental untuk merencanakan pembangunan baru.

Glasser mengatakan, “Kita akan membangun juga jalan-jalan dan rumah-rumah di zona banjir dan daerah-daerah dengan risiko bahaya kebakaran yang ekstrem, dan begitu ancaman bahaya itu terjadi, kerusakannya akan parah. Alasan ke-dua, yang semakin penting, adalah perubahan iklim karena kita sekarang melihat bahwa tempat-tempat yang terpapar ancaman bahaya tersebut sekarang bergeser. Frekuensi dan tingkat keparahan bahaya ini diperbesar oleh perubahan iklim. Kita kombinasikan kedua faktor ini dan kita akan lihat proyeksi mengenai dampaknya yang meningkat.”

Tahun 2020 diawali dengan kebakaran dan diakhiri dengan banjir. Tahun itu tercatat sebagai tahun terpanas ke-empat di Australia, sementara 2019 adalah tahun paling panas dan paling kering yang tercatat di sana selama ini.

Meskipun tingkat emisi gas rumah kaca per kapita di Australia termasuk yang paling tinggi di dunia, pemerintah yang berhaluan tengah kanan menegaskan bahwa kebijakan-kebijakan lingkungan hidupnya adalah kebijakan yang bertanggung jawab. Batu bara menjadi sumber 70 persen tenaga listrik di Australia. Akan tetapi para aktivis lingkungan hidup meyakini bahwa negara yang bermandikan sinar matahari, berangin dan inovatif ini seharusnya menjadi sumber energi ramah lingkungan.

Laporan Dewan Iklim menyatakan bahwa tanpa tindakan-tindakan yang lebih kuat, mustahil bagi Australia untuk “bertindak secara konsisten” dengan sasaran-sasaran dalam perjanjian iklim Paris, suatu perjanjian internasional mengenai perubahan iklim yang mengikat secara hukum.

Pada Oktober lalu, suatu penyelidikan resmi mengenai kebakaran hutan Black Summer memperingatkan bahwa Australia, pada masa mendatang, akan menghadapi “bencana yang menggabung” di mana kebakaran hutan, banjir, badai, terjadi pada waktu bersamaan, atau silih berganti. [uh]

VOA News

(Visited 186 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact us
1
Hello
Ada yang bisa kami bantu?