Chat kami sekarang

Ketegangan Meningkat dalam Hubungan AS-Rusia

Foto: Presiden AS Joe Biden menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai “pembunuh” (foto: ilustrasi). AP

Ketegangan meningkat antara Amerika dan Rusia menyusul pernyataan tajam dari Presiden Joe Biden tentang Vladimir Putin dan usaha Presiden Rusia itu untuk mencampuri pemilihan presiden Amerika pada 2020 yang lalu.


SulutPos.com, Washington – Rusia “mencampuri” pemilihan presiden Amerika tahun lalu, dan Presiden Vladimir Putin memberikan otorisasi untuk melakukan operasi yang bertujuan merugikan kampanye Joe Biden dan menguntungkan Presiden Donald Trump waktu itu. Demikian kesimpulan dari sebuah laporan intelijen Amerika yang diterbitkan minggu ini.

Presiden Joe Biden menggunakan kata-kata yang tajam untuk Putin, menyebut dia “pembunuh” dan katanya “dia akan membayar” sebagai akibat perbuatannya.

Dalam konferensi pers Gedung Putih, jurubicara kepresidenan Jen Psaki mengatakan:, “Rusia harus dituntut akuntabilitasnya atas tindakan-tindakan yang mereka lakukan. Kami akan punya lebih banyak materi tentang hal itu tidak lama lagi.”

Sebagai tanggapan atas usaha meracuni pengecam Kremlin, Alexey Navalny, Amerika pada Rabu (17/3) mengatakan, sedang memperketat sanksi atas beberapa ekspor ke Rusia. Lebih banyak sanksi terkait campur tangan dalam pemilihan yang lalu diduga juga akan diberlakukan. Sementara itu, Moskow telah memanggil pulang dutabesarnya di Washington.

William Courtney adalah seorang peneliti senior di lembaga kajian RAND Corporation. “Jarang ada presiden Amerika yang menyebut pemimpin negara adidaya yang bersaing sebagai seorang pembunuh. Kadang-kadang dutabesar dipanggil pulang setelah terjadi penghinaan. Dan sudah tentu, pemerintahan Biden kini berbicara tentang pemberlakuan lebih banyak sanksi sehubungan serangan siber Solarwinds. Jadi kedua hal ini bisa menjadi faktor yang dipertimbangkan (oleh Rusia).”

Menurut laporan intelijen Amerika, Rusia menyebar tuduhan tanpa bukti tentang kandidat Joe Biden waktu itu, dan menggunakan operator-operator Ukraina menyusup ke lingkungan dalam Trump, termasuk pengacara pribadinya, Rudy Giuliani.

Kampanye disinformasi seperti ini diduga akan terus berlangsung, dengan memanfaatkan perpecahan di dalam masyarakat Amerika.

Nina Jankowicz adalah peneliti dan pakar kampanye disinformasi di Wilson Center. “Isu-isu hangat, seperti misalnya, Black Lives Matter atau hak aborsi atau pemilikan senjata, ini semua adalah hal-hal yang dimanfaatkan musuh-musuh kita, mereka membesar-besarkannya, dan mereka mempertajam isu-isu ini untuk semakin memecah belah warga Amerika, mengadu kita satu sama lain, dan memupuskan partisipasi dan kepercayaan terhadap sistem yang demokratik.”

Karena Amerika memiliki kelebihan dari segi militer, musuh-musuh Amerika menggunakan serangan siber dan kampanye disinformasi sebagai senjata. Bekerja sama dengan sekutu-sekutu Barat, Amerika bisa melakukan balasan lewat sanksi, pengetatan visa dan perbankan yang ditujukan pada elite di negara-negara ini.

Elizabeth Braw adalah peneliti di American Enterprise Institute dan pakar tentang penangkalan terhadap bentuk-bentuk agresi yang baru. “Kalau Anda ikut campur dalam urusan negara kami, kami akan membekukan akun bank Anda, dan kami tidak akan beritahu akun bank yang mana, bisa yang mana saja sesuai pilihan kami. Dan hal-hal seperti itu yang kita ambil dan pakai, sebagai negara demokrasi liberal, kita pakai itu untuk keuntungan kita.”

Sementara pemerintahan Biden mengatakan langkah-langkah hukuman akan datang, mereka juga menekankan bahwa ada bidang-bidang dimana Amerika bisa bekerja sama dengan Rusia, termasuk perubahan iklim, perundingan nuklir Iran, dan pengendalian senjata. [jm/ka]

  

VOA News

(Visited 151 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *