Chat kami sekarang

Politisi Israel Bentuk Koalisi Rapuh untuk Gulingkan Netanyahu

Foto kombinasi Menteri Pendidikan Israel Naftali Bennett dan Pemimpin Partai Yesh Atid, Yair Lapid, 24 Maret 2021. (Foto: Ammar Awad/Amir Cohen/Reuters)


SulutPos.com, Washington – Sekelompok partai politik Israel yang secara ideologis beragam mencapai kesepakatan yang rapuh pada Rabu (2/6) malam yang dapat menggulingkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Yair Lapid, Ketua Partai Yesh Atid, mengatakan Rabu (2/6) malam, kurang dari satu jam sebelum batas waktu tengah malam, bahwa ia telah mendapat dukungan dari mayoritas Knesset (parlemen Israel).

Naftali Bennett, yang memimpin partai nasionalis garis keras Yamina, mengumumkan dukungannya untuk koalisi Lapid pada Minggu (30/5).

Kesepakatan antara keduanya akan membuat Bennett menjabat dua tahun pertama sebagai perdana menteri sebelum Lapid menggantikannya.

Presiden Reuven Rivlin memberi Lapid kesempatan untuk menyatukan koalisi partai-partai yang dapat mengumpulkan mayoritas di Knesset dengan 120 kursi itu setelah Netanyahu gagal melakukannya pada awal Mei.

Knesset sekarang diminta untuk membuat mosi percaya pada pemerintahan baru, sebuah prosedur yang tidak dapat disetujui sampai sidang pleno berikutnya, yang dijadwalkan pada Senin (7/6). Setelah disetujui, Ketua Knesset, Yariv Levin dari Partai Likud memiliki waktu hingga tujuh hari untuk menjadwalkan pemungutan suara.

Namun, untuk saat ini, koalisi Lapid memiliki mayoritas tipis di Knesset. Pemerintah akan dilantik dalam waktu 10 hari terhitung mulai Rabu (2/6). Ini waktu yang cukup bagi kubu Netanyahu untuk mengajak para anggota parlemen mendukung mereka dan memberikan suara menentang koalisi Lapid.

Israel telah berada dalam periode kekacauan politik selama dua tahun, di mana negara itu telah mengadakan empat kali pemilihan.

Setelah dua pemilihan umum pada 2019, Netanyahu gagal membentuk koalisi tetapi tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara. Setahun yang lalu, ia membentuk pemerintahan koalisi dengan saingannya Benny Gantz, tetapi kemudian bubar pada Desember karena parlemen gagal meloloskan anggaran.

Netanyahu yang berusia 71 tahun telah menjadi perdana menteri sejak 2009 setelah memegang jabatan yang sama selama tiga tahun pada 1990-an. Dia pernah diadili dengan tuduhan kejahatan korupsi tetapi dia membantah melakukan kesalahan. [lt/em]

VOA News

(Visited 222 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *