Kita, Sampah, dan ‘Bodoh Amat’

Foto: Ilustrasi.


Sampah adalah material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses yang dilakukan oleh manusia. Setiap hari sampah selalu bertambah karena adanya aktifitas manusia. Sebagian besar sampah di daerah saya berasal dari limbah rumah tangga karena beruntung jauh dari area pabrik. Meski begitu dapat dikatakan volume sampahnya lumayan tinggi.

Tingginya volume sampah ini sering kali meresahkan masyarakat sekitar. Akhirnya pemerintah merealisasikan suatu kebijakan yaitu adanya pengangkutan sampah menuju tempat pembuangan akhir dengan syarat masyarakat harus membayar pajak sebesar kurang lebih Rp 10.000/bulannya. Awalnya masyarakat merasa senang karena pada akhirnya mereka bisa mendapatkan solusi terhadap volume sampah yang tinggi.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan bulan demi bulan pun berlalu, tapi apa yang terjadi? Kebijakan itu tidak sepenuhnya terealisasikan dengan sempurna. Mobil pengangkut sampah hanya mengangkut sampah-sampah yang ada dijalan raya atau jalan utama saja. Sedangkan, masyarakat yang rumahnya harus masuk kearea dalam desa tidak diangkut. Kalau soal pembayaran pajak, semua masyarat sudah pasti membayar dengan jumlah yang sama. Sebagian masyarakat pun merasa tidak adil dengan hal tersebut. Bahkan sebagian menjadi marah. Namun, entah mengapa tak ada yang berani memberikan kritik atau sekedar protes pada pemerintah.

Kebijakan itu pun terus berjalan. Seperti biasa semua masyarakat selalu membayar pajak sampah setiap bulannya dan seperti biasa lagi hanya masyarakat yang berada di jalan raya yang sampahnya diangkut.

Miris! Benar-benar miris.

Dari ketidakadilannya kebijakan tersebut, sebagian masyarakat akhirnya berpikiran bodoh amat. Pikiran bodoh amat itu akhirnya membuat mereka sering membuang sampah sembarangan. Ralat! Bukan hanya sering, melainkan selalu.

Ada yang membuang sampah di selokan depan rumah, ada yang membuang sampah dibendungan dan bahkan ada juga yang melakukan pembakaran bebas karena bingung harus diapakan sampah-sampah tersebut yang setiap harinya selalu mengalami peningkatan. Akibatnya selokan sering tersumbat, dan suhu menjadi semakin panas karena ozon yang menipis dengan adanya pembakaran bebas.

Aktifitas bodoh amat itupun terus berjalan. Mungkin ada perasaan bersalah atau pun beban pikiran, tapi apalah daya, rakyat biasa tak bisa menentang pemerintah yang tinggi. Alhasil lingkungan hidup disekitar menjadi tidak sehat. Segala macam penyakit mulai menyebar, seperti flu dan batuk, cacingan pada anak-anak, bahkan tak bisa dipungkiri ada juga yang terkena demam berdarah.

Untuk itu, sangat diperlukan kesadaran pemerintah dan masyarakat untuk selalu menjaga kesehatan lingkungan sekitar agar hidup kita terhindar dan terminimalisir dari segala jenis penyakit yang ada.

 

Cikita Meydia Manoppo, Mahasiswa Universitas Negeri Manado.
Cikita Meydia Manoppo, Mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Manado.
(Visited 646 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact us
1
Hello
Ada yang bisa kami bantu?