Kuliah Daring: Mahasiswa Stres

Foto: Ilustrasi. (Google)


SulutPos.com, Tomohon – Tahun 2021 dunia masih juga dihantui dengan adanya pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Hampir dua tahun sudah virus corona merajalela di seluruh dunia tak terkecuali Indonesia. Setiap hari kita mendengar banyak orang meninggal akibat virus ini. Kenapa apa yang sedang terjadi dengan dunia?. Setiap orang harus tinggal di dalam rumah jika tidak ada kepentingan keluar rumah, wajib pakai masker, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, bahkan mengurangi mobilitas. Setiap kegiatan dibatasi, bekerja dari rumah, belajar dari rumah bahkan beribadah dari rumah.

Memasuki pertengahan tahun maka anak-anak mulai masuk sekolah. Awal semester ganjil sudah dimulai, mahasiswa sudah mulai belajar walaupun hanya dari rumah. Rata-rata setiap kampus sudah selesai mengikuti PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru) di awal semester bagi mahasiswa baru. Mahasiswa barupun yang baru memasuki kehidupan kampus pastinya bingung saat awal masuk kuliah, karena disaat ingin beradaptasi dengan statusnya yang beralih dari siswa ke mahasiswa harus kuliah secara online (dalam jaringan). Ingin melihat kehidupan di kampus tapi belum bisa, apalagi bagi mahasiswa baru yang berada di luar daerah kampus.

Saat pembelajaran daring diwajibkan memilki sarana prasarana yang memadai, jika tidak siap-siap tidak bisa mengikuti pembelajaran. Setiap mahasiswa harus mempunyai sarana prasarana yang memadai seperti laptop ataupun handphone dan kuota internet bahkan jaringan internetpun harus stabil demi kelancaran pembelajaran. Sering kali jika jaringan yang kurang bagus, mahasiswa bisa ketinggalan materi, dianggap tidak hadir saat pembelajaran, yang akibatnya bisa mempengaruhi nilai mahasiswa tersebut.

Hampir setiap hari dosen memberikan link untuk gabung belajar dalam sebuah aplikasi tatap muka secara virtual seperti Zoom Meeting ataupun Google Meet. Saat kuota internet ada namun jaringan internet kurang stabil  maka suara dosen terputus, materi presentasi kurang jelas, bahkan video pada aplikasi tersebut terhenti ataupun kita bisa keluar sendiri dari aplikasi. Saat materi dikirim ke aplikasi WhatsApp dalam bentuk foto maupun dokumen jika penyimpanan dalam laptop atau handphone tidak cukup, maka mahasiswa tidak bisa mempelajari materi tersebut karena tidak bisa diunduh. Pun ada beberapa dosen yang mewajibkan pembelajaran dan kirim tugas ke aplikasi Google Classroom.

Belum lagi jika situasi dan kondisi belajar yang kurang nyaman, apakah ada adik kakak kita yang suka mengganggu, ada tamu di rumah, ada suara-suara kendaraan, suara binatang peliharaan, bahkan gangguan-gangguan lain saat sedang kelas online membuat mahasiswa  terganggu. Banyak tugas yang diberikan oleh dosen mencatat materi, mencari materi di berbagai sumber, tugas kelompok sampai tugas dalam bentuk video membuat mahasiswa stress dan mengeluh. Belum lagi menghadapi karakter dosen yang menilai dari sudut padang ini, dosen yang lama saat menjelaskan, dosen yang suka terlambat masuk kelas, dosen yang menunda jam mata kuliah, dosen yang memberikan tugas yang banyak dengan batas waktu pemasukan tugas yang mepet.

Mahasiswa sering berpikir bahwa semua itu menjadi beban dalam dirinya saat menjalani perkuliahan, merasa capek, dan tak bisa lagi melanjutkan kuliah. Kegiatan-kegiatan di kampus pun saat ini dibatasi dan menambah rasa jenuh belajar daring. Disaat menyelesaikan tugas sampai larut malam mengejar deadline, dan keesokan harinya bangun kesiangan disaat kelas sudah sementara dimulai menjadikan mahasiswa makin stres. Kenapa harus belajar daring terus, mungkin sebagian besar dosen dan mahasiswa sudah divaksin, kasus Covid-19 di daerah setempat sudah berkurang, protokol kesehatan juga sudah dijalankan.

Namun apakah tidak terlintas dalam benak kita jika kita sebagai mahasiswa stress, bagaimana dengan para dosen? Sebagai mahasiswa kita hanya memikirkan status kita sebagai mahasiswa, belajar giat agar nilai tinggi dan bisa menyelesaikan kuliah. Kita tidak memikirkan bagaimana dengan para dosen yang mengajar, mendidik, mengarahkan, dan membina kita. Setiap dosen juga memiliki banyak tugas dan kerjaan baik di kampus dan rumah. Di kampus dosen harus menyusun materi, mempersiapkan diri mengajar, menyusun rencana belajar ke depan, bahkan banyak juga tugas lain di kampus. Belum lagi kewajiban dosen di dalam keluarganya di rumah, mengurus anak-anak yang ada dan masih banyak lagi urusan-urusan lain dari dosen.

Sistem pendidikan dengan gaya yang baru saat ini memberikan banyak pelajaran bagi kita dalam dunia pendidikan. Jika satu komponen tidak bisa bekerja sama dengan komponen yang lain maka dunia pendidikan tak mampu lagi melahirkan insan-insan penerus bangsa yang kuat. Seharusnya timbal-balik dan saling peduli, menghargai dan menghormati harus tertanam dalam diri kita, dunia ini keras jika kita tidak bisa menjadi air di tengah-tengahnya maka usailah harapan kita.

Semoga wabah ini akan segera berakhir dan sekiranya pemerintah dapat memberikan pelayanan dan konsentrasi penuh bagi dunia pendidikan untuk mempersiapkan insan penerus bangsa. Titik berat dalam konteks ini adalah bagaimana setiap lembaga pendidikan dan warga di dalamnya dapat bekerja sama dengan pemerintah. Adanya kerja sama satu dengan yang lain menjadikan bangsa Indonesia semakin kuat. Proses pendidikan harusnya memberikan rasa nyaman dan adil bagi setiap warga di dalamnya.

Sindhy Meisita Mantiri
Penulis: Sindhy Meisita Mantiri, Mahasiswa – Universitas Negeri Manado
(Visited 338 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact us
1
Hello
Ada yang bisa kami bantu?