Pentingnya Sosialisasi Bahaya Merokok Sejak di Sekolah Dasar (SD)

Foto: Ilustrasi


Merokok merupakan kegiatan atau kebiasaan membakar tembakau dari rokok yang melibatkan proses memasukkan asap ke dalam tubuh dengan cara menghisap zak adiktif yang menyebabkan adiksi (ketagihan) dan dependensi (ketergantungan).

Dengan kata lain, rokok termasuk dalam golongan NAPZA (Narkotika, Psikotropika, Alkohol, dan Zat Adiktif). Sedangkan menurut para ahli Rokok adalah lintingan atau gulungan tembakau yang digulung/dibungkus dengan kertas,daun atau kulit jagung, sebesar kelingking dengan panjang 8-10 cm, biasanya dihisap oleh seseorang setelah dibakar ujungnya.

Rokok merupakan pabrik bahan kimia yang sangat  berbahaya. Sosialisasi bahaya merokok di Indonesia masih berkurang dimana masih ada sekolah-sekolah  di daerah–daerah terpencil atau desa yang belum dijangkau atau fasilitas sosialisasi bahaya merokok tidak ada seperti, guru spesialis,alat, tempat dan lain sebagainya. Sehingga kegiatan sosialisasi tidak dapat dilaksanakan sebagai mestinya.

Indonesia saat ini berada di urutan ketiga sebagai Negara dengan jumlah perokok paling tinggi, sekitar 33,8 % atau sekitar  65,7 juta penduduk Indonesia adalah perokok. Bahkan di tahun 2018 yang lalu data jumlah perokok anak usia 10 hingga 18 tahun mengalami peningkatan sebesar 9,1 persen.

Dari data BPJS Kesehatan di tahun 2019 kemarin,  menunnjukkan jumlah kasus tidak menular akibat konsumsi tembakau  seperti jantung, stroke, dan kanker adalah 17,5 juta kasus dengan biaya lebih dari Rp 16,3 Trilliun. Angka peningkatan atau jumlah konsumsi rokok diatas terutama pelaku nya adalah remaja menunjukkkan bahwa tingkat sosialisasi Bahaya Merokok di Sekolah sangatlah kecil.

Sosialisasi bahaya merokok yang dilakukan di sekolah sejak SD sangatlah penting dan berpengaruh bagi pelajar, mengingat dampak merokok bagi remaja sangatlah besar dimana paru-paru berhenti berkembang, gejala penyakit jantung dan pembuluh darah yang terjadi lebih awal, kerusakan gigi, dan masalah pada otot dan tulang, tapi  dengan sosialisasi bahaya merokok maka para pelajar tidak mudah terpengaruh untuk mengonsumsi rokok.

Seperti halnya pepatah mengatakan “ dari kecil terajak-ajak sampai besar terbawa-bawa”. Dari pepatah tersebut mengajarkan kita bahwa dengan melaksanakan sosialisasi bagi pelajar dari kecil maka sampai besar para pelajar dapat menghindari untuk tidak mengonsumsi rokok.

Untuk menghindari tingkat konsumsi rokok yang semakin tingggi, maka pihak pemerintah, sekolah, dan orangtua harus bekerjasama baik dalam bentuk bantuan peningkatan sarana dan prasarana dari pemerintah, pelaksanaan sosialisasi secara berkelanjutan dari pihak sekolah dan pengawasan dari orangtua untuk membatasi anak dalam bergaul dalam ke hal yang negative.

Yerfi Yanto Lase (Mahasiswa UNIMA, Fakultas Ekonomi, Jurusan S1-Akuntansi)
Penulis: Yerfi Yanto Lase, (Mahasiswa UNIMA, Fakultas Ekonomi, Jurusan S1-Akuntansi)
(Visited 754 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact us
1
Hello
Ada yang bisa kami bantu?