Pecinta Alam dengan Cinta dan Harapan Palsunya

Foto: Adven Astri dengan latar belakang pemandangan alam pegunungan. (Foto: Adven Astri)


We take nothing, but pictures

We kill Nothing, but time

We leave nothing, but traces

Tiga kalimat ini sering diucapkan dalam doa-doa para pecinta alam. Itu adalah semboyan sejati dari mereka yang mencintai alam. Alam akan kami jaga. Kami tidak akan merusaknya. Kami hanya mengambi satu gambar, tidak secuil pun alam terambil. Kami hanya membunuh waktu, satu tunas rumput pun tidak akan kami sentuh. Kami tidak meninggalkan apapun disana, hanya jejak yang menjadi penanda kecintaan kami kepada alam. Selalu seperti itu, mencintai alam sudah seharusnya.

Karena jika alam dicintai, alam akan memberikan balasannya dalam bentuk limpahan anugerah yang kita perlukan. Alam juga harus kita pelihara, karena ini hanya pinjaman dari anak cucu kita. Alam harus kita rangkul, Karena luka alam adalah bencana bagi kemanusiaan.

Mungkin itulah yang terbenam, masuk kerongga-rongga banyak orang. Mereka pun mempunyai keinginan untuk mencintai alam secara sadar. Banyak dari antaranya kemudian mewujud dalam berbagai bentuk. Ada remaja pecinta alam. Ada kelompok pelestari lingkungan. Ada mahasiswa pecinta alam. Tetapi ada pertanyaan mendasar yang harus dijawab terlebih dahulu. Apakah hakikat dari alam itu? Alam adalah sebuah ekosistem dengan isinya. Ada manusia, ada tumbuhan, ada hewan, ada angin, ada air/sungai/danau/laut, ada batu, ada gunung, ada lembah.

Jika itu adalah alam, maka jika ada yang mengatakan sebagai pecinta alam, maka seharusnya orang tersebut harus mencintai segala isinya. Tetapi sering sekali, ketika mereka mengaku sebagai pecinta alam, sepertinya ada yang salah. Pada saat ini, ketika bicara tentang mencintai alam, ada yang tidak selaras dengan hal diatas. Alam selalu identic dengan gunung. Alam selalu diartikan sungai di lembah-lembah terpencil yang harus dijenguk. Alam selalu tentang ketinggian bumi dalam wujud bukit, gunung dan puncak-puncaknya. Pecinta alam selalu mengaku pecinta alam dengan hanya mendaki gunung, menelusuri gua, mengarungi sungai, menjelajahi jalan setapak di alam bebas.

Lalu, kalau alam adalah berikut seluruh isinya,mengapa sungai-sungai jorok dan bau tidak dijenguk? Mengapa lingkungan kotor dan amis tidak dikunjungi? Mengapa pantai-pantai jorok tidak ditengok?  Mengapa rupa-rupa buruk alam tidak disapa? Mengapa selalu tentang gunung, sungai dan bukit? Menjadi pecinta alam juga adalah tentang diri. Dengan mencintai alam, kita harus mengalahkan diri kita.  Demikian katanya. Mencintai alam dengan melakukan pendakian bukit, gunung dan terlusur sungai dan gua, bukan tentang menaklukkan alam. Ini terlebih tentang menaklukkan diri sendiri.

Bukankah di sungai-sungai kotor itu juga bias menjadi tempat menaklukkan diri sendiri? Lalu  apa yang salah dengan menaklukkan  diri di pantai-pantai  yang berbau sangat amis. Toh ,itu adalah juga alam. Banyak kejadian juga, para pecinta alam yang hanya mencintai dirinya sendiri. Sampah-sampah yang bertaburan di sepanjang jalur pendakian Semeru, bisa jadi contoh. Corat coret di pohon di tempat lain, juga menguarkan pertanyaan tentang cinta mereka ini.

Menjadi pencinta alam. mereka harus dilatih dengan keras. Tubuh mereka harus diperkuat. Mental mereka harus ditempa. Daya tahan mereka harus ditingkatkan. Naluri alamnya harus dipertajam. Kecintaan mereka harus dipupuk. Semuanya harus diuji di suatu saat… di suatu malam, Malam jahanam. Lalu mereka terbaring lunglai. Tubuhnya harus  dipapah. Mata-mata sembab menggambarkan kesedihan terdalam. Tulang-tulang patah dan tubuh tubuh lebam sudah dibaringkan. Nafas terakhir sudah dihembuskan. Demi menjadi pecinta alam. Mereka terkapar tak berdaya dan harus menghadap Tuhan-nya. Sebabnya, cinta palsu. Sebabnya harapan palsu yang disampaikan bertalu-talu. Karena, bisa jadi para pecinta itu telah mengubah semboyannya;

We take nothing, but lives

We kill nothing, but human

We leave nothing, but the dead and the wounded

Sementara di sudut kamar gelap terkunci dan dingin, isak  tangis tertahan seorang ibu menyeruak ke udara dan sayup terdengar. Sebab mimpi meraih cita cita hingga ke Oxford, kandas ditelan bumi, dihempaskan oleh sebuah  cinta dan harapan palsu dari mereka yang mengaku pecinta.

Adven Astri
Adven Astri (Mahasiswa – Penulis artikel)
(Visited 674 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact us
1
Hello
Ada yang bisa kami bantu?